Pemantauan Ekosistem Terumbu Karang di KKP3K Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya

Yayasan WWF Indonesia bekerja sama dengan Yayasan TAKA dalam melakukan pemantauan kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang atau Reef Health Monitoring (RHM) di Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya. Melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kelautan dan Perikanan No. 87/KEPMEN-KP/2016, Wilayah Kepulauan Derawan ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil Daerah Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (selanjutnya disebut dengan KKP3K KDPS) dengan luas kawasan 285.548,95 Ha.  Pada tanggal 10 – 14 Juni 2021, tim RHM melakukan pemantauan di 20 titik di dalam dan di luar kawasan konservasi. Titik tersebar di zona-zona kawasan, yang termasuk diantaranya Pulau Derawan, Pulau Panjang, Pulau Semama, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, Karang Muaras, Bilang bilangan, Mataha dan Biduk-Biduk.

Data yang dikumpulkan adalah data bentik (substrat) dan ikan target. Pengumpulan data keduanya dilakukan di kedalaman 10 m. Pengambilan data bentik menggunakan metode PIT (point intercept transect – metode titik menyinggung) dengan mencatat bentuk hidup karang (lifeform) setiap 0.5 m pada transek sepanjang 3 x 50 m. Untuk pemantauan ikan target menggunakan metode visual sensus dengan belt transect (metode sensus visual dengan transek sabuk) khusus kepada 16 famili ikan target berdasarkan pedoman E-KKP3K sepanjang transek 5 x 50 m. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan Amkieltiela dan Wijonarno (2015) (Baca Protokol Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang).

Pengambilan data substrat dengan metode PIT (Yayasan WWF Indonesia/Irwan Hermawan)

Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi terumbu karang di KKP3K KDPS pada umumnya terbilang cukup baik. Kondisi terumbu karang tidak signifikan berbeda di dalam kawasan dan di luar kawasan konservasi. Pada kedalaman dangkal (3 – 6 meter), terlihat kerapatan karang cukup tinggi, sedangkan pada kedalaman dalam (8 – 10 meter) banyak ditemukan patahan karang, spons, dan karang lunak. Ditemukan pula jenis karang endemik Kepulauan Derawan yaitu Acropora derawanensis yang cukup tersebar di seluruh Perairan Kepulauan Derawan. Ada beberapa lokasi dimana ditemukan karang yang mengalami pemutihan atau bleaching. Ditemukannya persentase tutupan karang yang cukup tinggi di lokasi pemantauan mengindikasikan adanya aktivitas yang merusak (penggunaan bom, trawl, jangkar kapal dll.)

Ikan target yang paling banyak ditemukan di lokasi pemantauan adalah ikan dari famili Acanthuridae (Ikan butana/kuli pasir/tabasan) dan Scaridae (Ikan kakaktua). Kedua famili ikan ini ditemukan di seluruh lokasi pemantauan. Ditemukan pula beberapa spesies ETP (Endangered, Threatened and Protected), termasuk Humphead Wrasse (Napoleon), Bumphead Parrotfish, penyu sisik, penyu hijau, Whitetip Reef Shark, pari manta, hingga beberapa mamalia laut seperti lumba-lumba.

Karang warna-warni yang ditemukan di lokasi pemantauan RHM (Yayasan WWF Indonesia/Mila Amelia)

Kepulauan Derawan merupakan salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Keindahan bawah laut dan keunikan Kepulauan Derawan merupakan potensi yang harus dijaga untuk dilestarikan. Dengan memantau kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang melalui kegiatan RHM ini, efektivitas pengelolaan di KKP3K KDPS dapat diukur dan rekomendasi pengelolaan kawasan yang efektif dapat diberikan.


Muhammad Chiesa Fathirayan & Rizky Erdana