TAKA dan MSC (Marine Stewardship Council) Perkuat Kapasitas Pemangku Kepentingan Menuju Perikanan Berkelanjutan

TAKA dan MSC (Marine Stewardship Council) Perkuat Kapasitas Pemangku Kepentingan Menuju Perikanan Berkelanjutan

Semarang, 27 Agustus 2026 – Mewujudkan perikanan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menjaga ketersediaan ikan. Di dalamnya terdapat kebutuhan akan tata kelola yang baik, praktik penangkapan yang bertanggung jawab, perlindungan ekosistem, ketersediaan data, serta sistem keterlusuran yang mampu memastikan perjalanan produk perikanan dari laut hingga pasar.

Semangat tersebut menjadi bagian dari kolaborasi TAKA dan Marine Stewardship Council (MSC) melalui Kelas TAKA : Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tingkat Satu dan Rantai Pengawasan (Chain of Custody) yang berlangsung pada tanggal 27-28 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang. Kegiatan ini diikuti sekitas 40 peserta dari unsur pemerintah, swasta, akademisi, dan organisasi non-pemerintah (NGO). Pelatihan menghadirkan Anthony Alvin dan Usmawati Anggita Sakti dari Marine Stewardship Council (MSC) sebagai narasumber.

Memahami Sertifikasi Perikanan Berkelanjutan

Pada hari petama, peserta mempelajari prinsip dan mekanisme MSC Fisheries Standard, termasuk proses penilaian, Unit of Assessment (UOA) dan Unit of Certification (UOC). Peserta memahami bahwa penilaian tidak hanya melihat kondisi stok ikan, tetapi juga dampak penangkapan terhadap habitat, spesies non-target dan Endangered, Threatened, and Protected (ETP), serta efektivitas tata kelola. 

Melalui studi kasus, peserta juga melihat kompleksitas proses sertifikasi, terutama ketika wilayah penangkapan dan sebaran stok melintasi batas administrasi atau Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Diskusi menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan perbaikan dan pemantauan secara konsisten.

Hal tersebut turut dibahas ketika Bagus Aris Wibowo menanyakan bagaimana masukan publik ditindaklanjuti, bagaimana reassessment dibandingkan dengan penilaian awal, serta kapan persiapan dilakukan menjelang berakhirnya periode sertifikasi lima tahun.

Anthony Alvin menjelaskan bahwa proses tidak berhenti setelah sertifikasi diperoleh. Surveillance dan reassessment memiliki mekanisme masing-masing, sementara aspek yang masih membutuhkan perbaikan harus terus ditindaklanjuti. Ia mencontohkan, “Ketika mendekati tahun ke-5, seperti contoh AP2HI, mereka masuk reassessment tahun 2026 dan sudah melakukan persiapan sejak 2025.”

Dari Laut hingga Pasar

Hari kedua berfokus pada Chain of Custody (CoC) atau rantai pengawasan, yang berperan memastikan produk perikanan dapat ditelusuri sepanjang rantai pasok. Informasi seperti wilayah penangkapan, alat tangkap, jenis ikan, Catch per Unit Effort (CPUE), dan lokasi pendaratan menjadi bagian penting dalam menjaga integritas produk serta mencegah pencampuran dengan sumber yang tidak memenuhi persyaratan.

Dalam diskusi, peserta juga membahas hubungan MSC dan Aquaculture Stewardship Council (ASC). Usmawati Anggita Sakti menjelaskan bahwa MSC berfokus pada perikanan tangkap, sementara ASC pada perikanan budidaya. Keduanya tetap memiliki ruang kolaborasi, termasuk melalui pertemuan rutin terkait CoC dan pengembangan standar bersama untuk komoditas tertentu seperti rumput laut. Terkait pertanyaan mengenai harga produk eco-lable, Anggi menegaskan bahwa MSC tidak menetapkan harga jual maupun premium price. Harga keputusan bisnis masing-masing perusahaan. Demikian pula dengan rasa produk, yang tidak diatur dalam standar MSC. 

Membangun Kolaborasi Lintas Sektor

Pelatihan ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju perikanan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan tata kelola, pelaku usaha dalam rantai pasok dan pasar, akademisi dalam penyediaan pengetahuan serta data, sementara NGO dapat berkontribusi melalui pendampingan dan penguatan kapasitas.

Melalui kelas TAKA dan kolaborasi bersama MSC, penguatan kapasitas ini menjadi langkah untuk mendorong praktik perikanan yang aman, legal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Pelatihan bukanlah akhir. Pelatihan adalah awal dari perubahan. Pengetahuan akan memiliki makna ketika diterjemahkan menjadi aksi, kolaborasi, dan perbaikan praktik di lapangan semi keberlanjutan sumber daya laut dan manfaatnya bagi masyarakat serta generasi mendatang.

%d blogger menyukai ini: