Menjaga Keberlanjutan Perikanan Udang di Pesisir Demak: Antara Potensi Ekonomi, Tantangan Ekologi, dan Peran Masyarakat

Menjaga Keberlanjutan Perikanan Udang di Pesisir Demak: Antara Potensi Ekonomi, Tantangan Ekologi, dan Peran Masyarakat

Laut yang Menghidupi Pesisir Demak

Wilayah pesisir Kabupaten Demak merupakan salah satu pusat kegiatan perikanan tangkap di pesisir utara Jawa yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas udang. Bagi masyarakat pesisir seperti di Desa Wedung, Morodemak, Buko, Tempel, dan Betahwalang, udang tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga nelayan. Data produksi perikanan tahun 2025 menunjukkan bahwa produksi udang di Kabupaten Demak mencapai sekitar 1.200 ton per tahun. Menariknya, sebagian besar hasil tangkapan berasal dari kapal berukuran lebih besar (≥5 GT) yang hanya mewakili sekitar 30% dari total armada, tetapi mampu menghasilkan sekitar 70% total produksi udang. Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan kapasitas akses wilayah penangkapan antara nelayan skala kecil dan nelayan dengan kapal yang lebih besar.

Musim Udang dan Pengetahuan Lokal Nelayan

Nelayan Demak memiliki pemahaman yang kuat terhadap dinamika alam dan perubahan musim. Salah satu istilah lokal yang dikenal adalah “udang tidur”, yaitu periode ketika udang muncul dalam jumlah melimpah di perairan dangkal sebelum memasuki fase reproduksi. Musim puncak udang biasanya terjadi pada bulan Maret hingga Mei, sedangkan musim paceklik umumnya berlangsung pada Desember hingga Februari akibat pengaruh angin barat yang menyebabkan gelombang tinggi dan membatasi aktivitas melaut.

Kondisi gelombang sangat menentukan luas area tangkapan. Nelayan dengan kapal kecil (1–3 GT) biasanya hanya dapat melaut ketika tinggi gelombang berada di bawah 1,5 meter. Saat kondisi laut lebih tenang, wilayah tangkap mereka dapat meluas hingga mencapai area yang sebelumnya hanya dapat dijangkau oleh kapal yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional nelayan mengenai angin, warna langit, dan perilaku burung masih menjadi bagian penting dalam menentukan waktu melaut.

Perjalanan Transformasi Menuju Alat Tangkap yang Lebih Ramah Lingkungan

 

Alat tangkap yang paling dominan digunakan oleh nelayan Demak adalah Arad (mini trawl) dengan proporsi sekitar 80% dari total armada. Alat ini menjadi pilihan utama karena efektif dalam menangkap udang seperti udang putih (Penaeus merguiensis) dan udang dogol (Metapenaeus endeavouri). Namun, efektivitas tersebut juga menimbulkan konsekuensi ekologis. Penggunaan Arad menghasilkan tangkapan sampingan (bycatch) dan hasil buangan (discard) yang cukup tinggi, mencapai sekitar 30–40% dari total hasil tangkapan. Sebagian besar merupakan ikan muda, kepiting, dan organisme non-target yang akhirnya dibuang dalam kondisi mati. Selain itu, metode penyapuan dasar perairan juga berpotensi menyebabkan gangguan terhadap habitat dasar laut. Untuk mengurangi dampak tersebut, mulai diperkenalkan inovasi berupa Turtle Excluder Device (TED), yaitu perangkat modifikasi alat tangkap yang memberikan jalan keluar bagi penyu dan biota laut berukuran besar yang tidak menjadi target tangkapan. Penerapan teknologi ini juga menjadi salah satu persyaratan penting dalam membuka peluang ekspor udang ke pasar internasional.

Tidak semua udang hasil tangkapan memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai produk segar. Udang kecil kategori Grade C yang memiliki ukuran sekitar 200–250 ekor per kilogram justru menjadi bahan baku penting bagi industri olahan seperti kerupuk udang, petis, abon udang, rengginang ebi, dan produk berbasis udang lainnya. Pengolahan ini memberikan nilai tambah yang besar. Dalam produksi kerupuk udang, satu kilogram udang dapat menghasilkan sekitar lima kilogram produk jadi setelah dicampur dengan tepung dan bumbu. Sistem pengolahan tradisional yang memanfaatkan seluruh bagian udang, termasuk kepala dan cangkangnya, menunjukkan praktik zero waste yang telah diterapkan oleh masyarakat secara turun-temurun.

Perempuan sebagai Aktor Penting Rantai Nilai Perikanan

Di balik aktivitas perikanan tangkap, terdapat peran besar perempuan dalam rantai pascapanen. Perempuan pesisir terlibat dalam kegiatan penyortiran, pencucian, perebusan, pengeringan, hingga pengolahan berbagai produk olahan udang. Pada musim udang kecil, ratusan perempuan di wilayah Wedung terlibat dalam aktivitas pengolahan. Peran mereka tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga menjadi penggerak utama terciptanya nilai tambah dari sumber daya perikanan lokal. Namun demikian, sebagian besar pelaku usaha perempuan masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan modal, ketergantungan terhadap cuaca dalam proses pengeringan, teknologi produksi yang sederhana, serta akses pasar yang masih terbatas.

Rantai Perdagangan dan Tantangan Kesejahteraan Nelayan

Perjalanan udang dari laut hingga sampai ke tangan konsumen melibatkan banyak aktor, mulai dari nelayan, bakul atau pengepul desa, pedagang besar, tempat pelelangan ikan (TPI), hingga industri pengolahan. Banyak nelayan kecil memilih menjual hasil tangkapannya kepada pengepul karena memperoleh pembayaran secara langsung dan memiliki akses pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, sistem ini sering membuat harga jual menjadi lebih rendah dibandingkan melalui mekanisme pelelangan, sehingga posisi tawar nelayan menjadi lebih lemah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan perikanan tidak hanya berkaitan dengan sumber daya ikan, tetapi juga menyangkut akses terhadap informasi pasar, modal usaha, dan kelembagaan yang mampu memperkuat posisi nelayan.

Perikanan udang di Demak merupakan gambaran bagaimana aspek ekologi, ekonomi, dan sosial saling berkaitan. Udang memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat pesisir, tetapi pemanfaatannya harus dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya. Pengembangan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan, peningkatan teknologi pascapanen, penguatan kelompok perempuan pengolah, serta peningkatan akses nelayan terhadap pasar dan pembiayaan menjadi langkah penting menuju sistem perikanan yang lebih adil dan berkelanjutan. Pada akhirnya, menjaga keberlanjutan perikanan bukan hanya tentang mempertahankan jumlah udang di laut, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada laut tetap memiliki masa depan yang layak.

%d blogger menyukai ini: