Menelisik Nelayan Kompresor Pulau Nyamuk

Pulau Nyamuk, Karimunjawa
(Foto: Faqih Akbar, 2019)

Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu dari tujuh Taman Nasional Laut yang terdapat di Indonesia dan terletak di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Taman Nasional Karimunjawa terdiri atas 27 pulau, termasuk didalamnya lima pulau yang dihuni oleh masyarakat asli Karimunjawa. Salah satu pulau tersebut adalah Pulau Nyamuk, yang menjadi tempat tinggal masyarakat Desa Nyamuk. Desa Nyamuk memiliki sekitar 150 Kepala keluarga, atau sedikitnya dihuni oleh 300 orang. Masyarakat di Desa Nyamuk sangat bergantung kepada hasil dan kekayaan alam laut Karimunjawa, sehingga banyak dari mereka yang bermatapencaharian sebagai nelayan ataupun pengepul ikan. Kategori nelayan yang ada di Desa Nyamuk bervariasi, diantaranya terdapat nelayan budidaya (kerapu), nelayan jaring (gill net), dan nelayan kompresor. Diantara ketiga kategori tersebut, mayoritas nelayan Desa Nyamuk memilih untuk bekerja sebagai nelayan kompresor.

Nelayan Kompresor secara sederhana dapat didefinisikan sebagai nelayan yang menggunakan bantuan mesin kompresor (compressor) sebagai alat bantu dalam menangkap ikan.

Alat tangkap utama nelayan kompresor tetaplah alat tangkap yang pada umumnya digunakan nelayan untuk menangkap ikan, seperti jaring (gill net), bubu (perangkap ikan), tombak (speargun), dan yang dilarang yaitu potas (potassium). Kompresor hanyalah alat bantu supaya nelayan dapat menyelam lebih lama di dalam air dan memudahkan untuk menangkap ikan dalam jumlah yang lebih banyak. Namun perlu diketahui, penggunakan kompresor oleh nelayan kompresor dapat mengakitbatkan lumpuh hingga kematian bagi nelayan tersebut. Selain dampak kesehatan bagi nelayan. Disamping sudah banyak diketahuinya fakta mengenai dampak penggunaan kompresor terhadap tubuh, kompresor masih digandrungi oleh nelayan Desa Nyamuk dalam menangkap ikan.

Nelayan kompresor dengan speargun
(Foto: Mark Lahn, 2015)

Nelayan kompresor Desa Nyamuk menggunakan speargun dan tangan kosong sebagai alat tangkap utama mereka. Mereka biasa berangkat untuk melaut sebelum matahari tenggelam menuju lokasi penangkapan yang berjarak sekitar 30-45 menit dari Pulau Nyamuk. Satu kapal nelayan kompresor biasanya berisikan empat orang nelayan untuk satu kali trip penangkapan, tiga orang sebagai penyelam dan satu orang sebagai pengemudi kapal. Orang yang bertugas sebagai penyelam biasanya mengoleskan balsam ke seluruh tubuh mereka dan menggunakan beberapa lapis baju untuk melindungi tubuh dari suhu dingin perairan laut di malam hari. Dilengkapi dengan masker selam, kaki katak (fins), pemberat buatan, speargun dan selang sepanjang kurang lebih 60 m, memungkinkan nelayan kompresor Desa Nyamuk untuk menyelam dan menangkap ikan selama kurang lebih 1,5 jam. Dalam satu kali trip (malam) penangkapan, nelayan kompresor Desa Nyamuk biasanya dapat menyelam hingga 2-3 kali dan mendapat ikan sebanyak 50-150 kg dan penghasilan sekitar Rp600.000 dalam satu minggu. Ikan hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam box besar berisi es sebelum mereka kembali untuk pulang sekitar pukul 2 pagi.

Nelayan Desa Nyamuk mengatakan mereka mengetahui dampat negatif penggunaan kompresor bagi tubuh mereka. Namun, keuntungan yang besar yang didapatkan dari penggunaan kompresor seakan membuat mereka acuh atau tak menganggap adanya dampak negatif tersebut. Selain dampak bagi kesehatan, secara tidak langsung penggunaan kompresor dan speargun oleh nelayan Desa Nyamuk mungkin dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbuh karang di perairan sekitar Pulau Nyamuk. Hal ini dikarenakan banyaknya ikan yang tertangkap dalam waktu yang sangat pendek, mengakibatkan menurunnya jumlah ikan dan kesempatan bagi ikan untuk bereproduksi. Apabila praktik yang tidak sehati ini kerap dilanjutkan, lokasi tangkap yang semakin jauh dan ukuran ikan yang semakin kecil dan sedikit hanyalah tinggal hitungan waktu.

Faqih Akbar A.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *