Di antara berbagai jenis hiu yang menghuni lautan, terdapat kelompok hiu dengan kemampuan yang tidak biasa. Hiu ini mampu menggunakan siripnya untuk bergerak di dasar laut, bahkan dapat melintasi area terumbu yang dangkal ketika sebagian tubuhnya berada di luar air. Kemampuan tersebut membuatnya dikenal sebagai hiu berjalan atau walking shark. Hiu berjalan termasuk dalam genus Hemiscyllium dari famili Hemiscylliidae. Kelompok ini merupakan hiu berukuran relatif kecil yang memiliki persebaran geografis terbatas di kawasan Australia dan Pulau Papua. Penelitian terbaru pada 2026 mencatat 10 spesies dalam genus Hemiscyllium, setelah ditemukannya spesies baru, Hemiscyllium dudgeonae, di Papua Nugini.
Apa itu Hiu Berjalan?
Hiu berjalan bukan berarti memiliki kaki seperti hewan darat. Istilah tersebut merujuk pada cara bergeraknya yang unik dengan memanfaatkan sirip dada dan sirip perut sebagai alat untuk menopang dan mendorong tubuh di atas dasar perairan. Kemampuan tersebut memungkinkan hiu berjalan bergerak melewati permukaan terumbu karang, pasir, maupun struktur dasar lainnya. Adaptasi ini sangat sesuai dengan habitat mereka yang umumnya berupa perairan dangkal dan ekosistem terumbu. Berbeda dengan sebagian besar hiu yang mengandalkan gerakan tubuh dan sirip ekor untuk berenang, hiu berjalan dapat bergerak secara perlahan di dasar perairan. Kemampuan tersebut juga membuat mereka mampu menjangkau celah-celah terumbu yang sulit dilalui dengan cara berenang biasa. Secara umum, hiu berjalan memiliki tubuh memanjang dengan kepala relatif lebar, sirip dada dan sirip perut yang kuat, serta pola warna tubuh yang khas. Pola warna dan bentuk bintik pada tubuh menjadi salah satu karakter penting untuk membedakan spesies. Hal ini sangat penting karena beberapa spesies Hemiscyllium memiliki bentuk tubuh yang mirip. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa identifikasi hiu berjalan dapat memanfaatkan kombinasi pola warna, karakter morfologi, persebaran geografis, dan penanda genetik. Ukuran tubuh juga berbeda antarspesies. Sebagai contoh, penelitian terhadap Hemiscyllium galei di Teluk Doreri, Manokwari, menemukan individu dengan panjang total hingga sekitar 75 cm.
Hiu berjalan merupakan penghuni zona bentik, yaitu bagian ekosistem yang berada di dasar perairan. Mereka banyak ditemukan pada habitat perairan dangkal yang berasosiasi dengan terumbu karang dan lingkungan pesisir. Habitat tersebut menyediakan berbagai tempat untuk berlindung dan mencari makanan. Perairan dangkal juga menjadi ruang penting bagi proses kehidupan hiu berjalan karena spesies dalam genus ini memiliki wilayah persebaran yang relatif terbatas. Keterbatasan kemampuan untuk berpindah melintasi laut terbuka membuat sebagian spesies hiu berjalan memiliki distribusi geografis yang sangat sempit. Kondisi ini menjadikan mereka sangat bergantung pada kualitas habitat lokal. Hiu berjalan umumnya merupakan satwa nokturnal atau lebih aktif pada malam hari. Pada waktu tersebut, mereka bergerak di sepanjang dasar perairan untuk mencari makanan. Di kawasan Misool, Raja Ampat, misalnya, Hemiscyllium freycineti atau yang dikenal sebagai kalabia ditemukan pada zona bentik dan menunjukkan karakter sebagai satwa nokturnal. Survei di wilayah tersebut menemukan 58 individu dengan ukuran yang bervariasi, mulai sekitar 20 cm hingga 61–70 cm. Perilaku aktif pada malam hari juga membuat pengamatan terhadap hiu berjalan sering dilakukan menggunakan metode survei malam, seperti sensus visual bawah air.
Hiu Berjalan di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu wilayah penting bagi keberadaan hiu berjalan. Beberapa spesies Hemiscyllium ditemukan di perairan Indonesia bagian timur. Salah satu contoh yang menarik adalah hiu berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera), spesies endemik Indonesia yang pertama kali dideskripsikan pada 2013. Penelitian mengenai karakter morfologi dan genetiknya menunjukkan bahwa spesies ini memiliki karakteristik yang dapat dibedakan melalui pendekatan morfologi dan DNA.
Selain itu, kalabia (Hemiscyllium freycineti) ditemukan di kawasan Raja Ampat, termasuk Misool. Penelitian di Misool menunjukkan bahwa spesies tersebut memiliki persebaran yang terbatas dan hidup di kawasan perairan dangkal.
Di Papua Barat, hiu berjalan Teluk Triton (Hemiscyllium henryi) merupakan spesies endemik perairan pesisir Kaimana. Penelitian pada 2022–2023 mencatat peningkatan kepadatan yang teramati dari 1,2 individu/ha menjadi 2,4 individu/ha setelah kawasan tersebut mendapatkan perlindungan penuh terhadap spesies tersebut.
Salah satu hal yang membuat hiu berjalan istimewa adalah tingkat endemisitasnya. Banyak spesies hanya ditemukan pada wilayah geografis tertentu. Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan dispersal yang terbatas. Hiu berjalan tidak mudah berpindah melintasi laut terbuka dalam jarak yang jauh. Akibatnya, populasi yang terpisah secara geografis dapat berkembang menjadi kelompok dengan karakteristik genetik dan morfologi yang berbeda. Penelitian terbaru di Papua Nugini menunjukkan adanya pola persebaran yang terpisah-pisah antarpopulasi. Kondisi geografis dan sejarah perubahan permukaan laut diduga turut berperan dalam terbentuknya keragaman spesies dalam genus Hemiscyllium.
Penemuan Spesies Baru Pada Tahun 2026
Pengetahuan mengenai hiu berjalan terus berkembang. Pada Juni 2026, para peneliti mendeskripsikan spesies baru yang diberi nama Hemiscyllium dudgeonae atau Dudgeon’s walking shark dari wilayah Milne Bay, Papua Nugini.
Spesies tersebut menjadi anggota ke-10 genus Hemiscyllium berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the Ocean Science Foundation. Spesies baru ini memiliki pola warna dan karakteristik genetik yang membantu membedakannya dari spesies hiu berjalan lainnya.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan perairan dangkal Papua dan Australia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum sepenuhnya diketahui. Pada saat yang sama, spesies dengan persebaran geografis yang sempit juga dapat menghadapi risiko konservasi yang tinggi.
Mengapa Hiu Berjalan dilindungi dan Bagaimana Cara Melindunginya?
Hiu berjalan memiliki karakter yang membuatnya sangat bergantung pada habitat tertentu. Ketika habitat mengalami kerusakan, kemampuan mereka untuk berpindah ke wilayah lain mungkin terbatas. Kerusakan terumbu karang, perubahan habitat pesisir, aktivitas manusia yang tidak terkendali, serta praktik perikanan yang berpotensi merusak habitat dapat memberikan tekanan terhadap populasi lokal. Penelitian terhadap Hemiscyllium galei di Teluk Doreri menunjukkan bahwa spesies tersebut kemungkinan hanya menempati wilayah yang terbatas sehingga rentan terhadap aktivitas manusia di sekitarnya. Karena itu, konservasi hiu berjalan tidak dapat dipisahkan dari konservasi habitatnya.
Bagaimana Cara Melindunginya?
Perlindungan hiu berjalan dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan:
- Melindungi habitat terumbu karang dan pesisir sebagai tempat hidup utama.
- Mengurangi aktivitas perikanan yang berpotensi merusak habitat dasar perairan.
- Melakukan pemantauan populasi secara berkala untuk mengetahui perubahan jumlah dan persebarannya.
- Meningkatkan penelitian, terutama terkait biologi, genetika, habitat, dan dinamika populasi.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir mengenai keberadaan dan pentingnya hiu berjalan.
- Memperkuat kawasan konservasi di wilayah yang menjadi habitat spesies endemik.
- Mendorong praktik perikanan yang bertanggung jawab agar aktivitas manusia dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan keanekaragaman hayati.
Hiu berjalan memperlihatkan bahwa laut memiliki cara yang luar biasa dalam membentuk kehidupan. Dengan menggunakan siripnya untuk bergerak di dasar laut, hewan ini telah beradaptasi dengan lingkungan pesisir yang menjadi rumahnya. Namun, keunikan tersebut juga menunjukkan kerentanannya. Spesies dengan persebaran geografis yang terbatas sangat bergantung pada kondisi habitat setempat. Ketika habitat tersebut terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh populasi yang tidak memiliki banyak pilihan untuk berpindah.
Indonesia memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga keberadaan hiu berjalan karena sejumlah spesiesnya merupakan bagian dari kekayaan biodiversitas perairan Indonesia, termasuk Hemiscyllium halmahera di Maluku Utara dan Hemiscyllium freycineti di Raja Ampat. Pada akhirnya, melindungi hiu berjalan bukan hanya tentang menyelamatkan satu kelompok hiu yang unik. Melindungi hiu berjalan berarti menjaga terumbu karang, perairan pesisir, dan seluruh ekosistem yang menjadi tempat mereka hidup.
Laut yang sehat adalah laut yang mampu menyediakan ruang bagi setiap spesies untuk bertahan dan menjalankan perannya. Hiu berjalan adalah salah satu pengingat bahwa setiap kehidupan di laut, sekecil apa pun, memiliki nilai bagi keseimbangan ekosistem.
Referensi
Blakeway, J.-A., Townsend, K. A., Erdmann, M. V., Allen, G. R., Teliwa, M., Waranaka, J.-A., Brooks, W. M., & Dudgeon, C. L. (2026). A review of walking shark (Hemiscylliidae: Hemiscyllium) distributions in Papua New Guinea and description of a new species. Journal of the Ocean Science Foundation, 46, 71–110.
Insani, M. F., Sala, R., & Kolibongso, D. (2022). Some Aspects of Bio-ecology of Walking Shark (Hemiscyllium galei) in Doreri Bay, Manokwari, Indonesia. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences, 27(3), 279–284.
Madduppa, H., Putri, A. S. P., Wicaksono, R. Z., et al. (2020). Morphometric and DNA Barcoding of endemic Halmaheran walking shark (Hemiscyllium halmahera, Allen, 2013) in North Maluku, Indonesia. Biodiversitas, 21, 3331–3343.
Widiarto, S. B., Wahyudin, I., Sombo, H., et al. (2020). Populasi hiu berjalan, Kalabia (Hemiscyllium freycineti), di Perairan Misool, Kabupaten Raja Ampat. Aquatic Science & Management, 8(1).
Prehadi, et al. (2024). Biological Aspect and Abundance of Triton Epaulette Shark (Hemiscyllium henryi) Endemic to Triton Bay, Kaimana, West Papua. Saintek Perikanan, 20(3), 133–140.
