Hasil Asesmen EAFM: Perikanan Udang Skala Kecil di Demak Masih “Kurang” Berkelanjutan, Perlu Penguatan Pengelolaan Terpadu

Hasil Asesmen EAFM: Perikanan Udang Skala Kecil di Demak Masih “Kurang” Berkelanjutan, Perlu Penguatan Pengelolaan Terpadu

Semarang, 10 Februari 2026 — Hasil asesmen Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) terhadap perikanan udang skala kecil di Kabupaten Demak menunjukkan bahwa status pengelolaan saat ini berada pada kategori “Kurang” dengan nilai komposit agregat 165. Temuan ini menegaskan perlunya langkah strategis dan kolaboratif untuk memastikan keberlanjutan sumber daya udang laut di wilayah pesisir Laut Jawa (WPPNRI 712).

Asesmen dilakukan menggunakan modul indikator resmi yang dikembangkan oleh National Working Group on EAFM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, mencakup enam domain utama: sumber daya ikan, habitat dan ekosistem, teknik penangkapan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan. 

TEMUAN UTAMA

Temuan Utama

Pada domain Sumber Daya Ikan, kondisi dinilai “Buruk” (skor 120). Tren catch per unit effort (CPUE) menunjukkan penurunan, ukuran udang yang tertangkap cenderung semakin kecil, dan proporsi udang juvenil yang tertangkap masih tinggi. Hal ini mengindikasikan tekanan berlebih terhadap stok serta rendahnya selektivitas alat tangkap.

Domain Habitat berada pada kategori “Sedang” (skor 213). Ekosistem mangrove sebagai habitat asuhan (nursery ground) udang mengalami degradasi akibat abrasi, sedimentasi, dan alih fungsi lahan. Kualitas perairan pesisir juga menunjukkan indikasi penurunan akibat beban pencemaran dari daratan.

Pada domain Teknik Penangkapan, status dinilai “Kurang” (skor 155). Meskipun sebagian besar nelayan menggunakan alat tangkap yang diizinkan, selektivitas alat masih rendah dan by-catch relatif tinggi. Kapasitas armada dan aspek keselamatan kerja nelayan juga masih perlu ditingkatkan.

Domain Sosial masuk kategori “Buruk” (skor 135), terutama karena rendahnya partisipasi pemangku kepentingan dalam kegiatan pengelolaan dan minimnya pemanfaatan pengetahuan lokal dalam tata kelola perikanan.

Sementara itu, domain Ekonomi (skor 175) dan Kelembagaan (skor 193) berada pada kategori “Kurang” hingga “Sedang”. Pendapatan nelayan umumnya setara UMR namun tanpa tabungan memadai, sedangkan regulasi dan mekanisme pengambilan keputusan telah tersedia tetapi belum sepenuhnya efektif dalam implementasi.

 

Tantangan dan Arah Kebijakan

Asesmen mengidentifikasi tiga kelompok tantangan utama:

1.     Aspek sumber daya dan lingkungan, termasuk tingginya penangkapan udang anakan, degradasi mangrove, serta penurunan produksi tangkapan.

2.     Aspek sosial-ekonomi, seperti rendahnya pemahaman pengelolaan berkelanjutan dan kontribusi ekonomi yang masih terbatas.

3.     Aspek tata kelola, mencakup belum spesifiknya pengaturan teknis penangkapan udang dan belum sinergisnya sistem pendataan.

Sebagai tindak lanjut, dirumuskan lima strategi pengelolaan utama:

1.     Pemulihan dan peningkatan populasi udang melalui pembatasan ukuran tangkap dan pengaturan musim penangkapan.

2.     Perlindungan dan rehabilitasi habitat asuhan, termasuk integrasi rencana aksi dalam RZWP3K Jawa Tengah dan rehabilitasi mangrove prioritas.

3.     Penegakan hukum yang efektif terhadap praktik penangkapan merusak dan tidak ramah lingkungan.

4.     Pelibatan kelompok masyarakat penggerak dan penguatan aturan lokal desa.

5.     Pembentukan forum multipihak serta penguatan dukungan pendanaan jangka panjang.

 

Komitmen Kolaboratif

Pengelolaan perikanan udang di Demak tidak dapat dilakukan secara sektoral. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, perguruan tinggi, LSM, swasta, serta masyarakat nelayan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dan memastikan keberlanjutan stok udang bagi generasi mendatang.

Hasil asesmen ini diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan berbasis ekosistem serta mendorong transformasi perikanan udang skala kecil menuju model pengelolaan yang produktif, adil, dan berkelanjutan.

 


%d blogger menyukai ini: