Dari Betahwalang, untuk Laut yang Terjaga: Cerita Ahmad Romadlon

Dari Betahwalang, untuk Laut yang Terjaga: Cerita Ahmad Romadlon

Pesisir Desa Betahwalang, perbatasan Demak dan Jepara. Ramadan Ahmad, seorang nelayan yang telah melaut sejak tahun 2016, bersama perahu yang terus menemaninya. Hampir sepuluh tahun lamanya ia menggantungkan hidup pada laut di sekitar perairan Demak, Semarang, Kendal, hingga Jepara.

Ia biasa berangkat dari desanya sendiri, tak jauh dari PPP Morodemak. Alat tangkap yang digunakannya kini bernama CTD—perubahan dari alat sebelumnya yang dikenal sebagai ARAD. Pergantian itu merupakan kebijakan pemerintah, dengan harapan alat tersebut lebih ramah dan mampu menyaring biota yang tidak diinginkan agar bisa kembali ke laut.

 

Selama bertahun-tahun melaut, Ramadan tak hanya menangkap ikan atau udang. Ada kalanya jaringnya mengangkat biota lain yang tak terduga. Ia menyebut salah satunya “Mimi” — sebutan lokal untuk hewan laut purba yang bentuknya menyerupai kura-kura dengan ekornya yang panjang (kepiting tapal kuda). Selain itu, terkadang teripang, keong, bahkan penyu atau pari ikut terangkat bersama hasil tangkapan utama.

Namun bagi Ramadan, hewan-hewan itu bukan untuk diperjualbelikan. Tengkulak di daerahnya pun tidak menerima hasil tangkapan tersebut. Karena itu, jika mendapati biota seperti penyu atau “Mimi”, ia memilih melepaskannya kembali ke laut. “Diambil seperlunya saja,” ujarnya sederhana. Baginya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang hidup yang harus dijaga keseimbangannya.

Meski begitu, proses melepaskan tangkapan sampingan tidak selalu mudah. Jika yang terangkat berukuran besar seperti penyu atau pari, ia harus bersusah payah mengangkatnya dari campuran udang dan hasil tangkapan lain. Tanpa katrol di perahu, pekerjaan itu terasa berat dan melelahkan. Beruntung, alat CTD yang digunakannya jarang rusak karena tangkapan sampingan, berbeda dengan nelayan yang memakai jaring, yang sering kali harus memperbaiki jaring akibat tersangkut hewan besar.

Dari semua tantangan yang ia hadapi, cuaca tetap menjadi musuh terbesar. Ketika laut bergejolak dan angin kencang datang, tak ada pilihan selain menepi. Hari tanpa melaut berarti hari tanpa penghasilan. Namun ia memahami risiko itu sebagai bagian dari hidup yang telah ia pilih.

Kini, untuk pertama kalinya, Ramadan mengikuti pelatihan mitigasi tangkapan sampingan (bycatch mitigation) yang diselenggarakan oleh Yayasan TAKA. Meski telah sering mengikuti pelatihan lain sebelumnya, ia menyadari bahwa pengetahuan tentang cara menangani dan melepaskan biota non-target dengan benar sangat penting. Bagi dirinya dan nelayan lain, ilmu tersebut bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang menjaga laut agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya.

Ramadan terus melanjutkan perjalanannya sebagai nelayan — dengan pengalaman, tantangan, dan harapan yang selalu menyertai setiap kali ia melaut.

%d blogger menyukai ini: