Bicara Sampah pada Episode Perdana Bintang Laut

Bicara Tentang Laut atau disingkat menjadi BinTang Laut, merupakan kegiatan bicang santai dengan komunitas yang bergerak di bidang konservasi lingkungan dan laut

Pada episode perdananya, BinTang Laut menghadirkan Himatul Ulya dari Seangle Semarang sebagai narasumber dalam live Instagram yang telah dilakukan pada Sabtu (13/02) di akun Instagram @yayasantaka.

Mengangkat tema sampah dengan judul “Daruratkah Kondisi Sampah Kota Semarang?”, Hima sebagai Ketua Departemen Project & Research, membagikan pengalamannya selama menjadi pejuang untuk melawan sampah di Kota Semarang. Menurut Hima, kondisi sampah di Kota Semarang dapat dikatakan darurat. Bila dilihat secara nasional berdasarkan data yang ada, Indonesia berada di peringkat ke-2 dengan sampah terbanyak di dunia. Bahkan di TPA Jati Barang, Jawa Barat, terdapat isu bahwa TPA sudah terlalu penuh (overload) dalam menampung sampah. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya penggunaan dan manajemen plastik sekali pakai, sedotan plastik, dan lain-lain yang kurang bijak, ditambah konsumsi akan plastik yang menghasilkan limbah bertambah seiring berjalannya waktu.

Hima menyebutkan bahwa sampah darat dan laut tidak jauh berbeda. Kebanyakan sampah laut berasal dari darat karena kurang efektifnya sistem pengolahan pembuangan sampah. Di Indonesia, 80% sampah berasal dari darat, dan 20% berasal dari kegiatan arus laut. Sampah makro sendiri dapat terdegradasi menjadi sampah mikro (baca: mikroplastik), bahkan ukuran nano, yang dapat berdampak pada ekosistem terumbu karang, lamun, bahkan biota laut lain seperti ikan.

Berdasarkan penelitian LIPI, 33% sampel ikan yang mereka teliti mengandung mikroplastik dan nanoplastik. Bahkan menurut pembicara dari Ecoton pada webinar yang diselenggarakan oleh Seangle Semarang tentang marine debris, dikatakan bahwa sebenarnya kita mengonsumsi mikroplastik tanpa kita sadari. Selain itu, sampah plastik juga berdampak buruk pada ekosistem laut. Di Seangle Semarang terdapat video tentang kilas balik sampah dari tahun 2018-2020, dari video tersebut dapat dilihat bahwa sampah semakin naik dari tahun ke tahun.

Kenalan dengan Seangle Semarang

Seangle Semarang sendiri merupakan komunitas peduli lingkungan, yang berfokus pada masalah marine debris atau sampah laut, serta cara menanganinya mulai dari hulu hingga ke hilir. Berdiri pada 10 Juli 2018, Seangle Semarang merupakan cabang dari Seangle Indonesia yang bertempat di Palu dan memiliki visi dan misi yaitu menciptakan Indonesia yang ramah lingkungan dan bebas sampah dengan masyarakat yang berwawasan lingkungan.

Sebelum pandemi, kegiatan Seangle lebih sering di lapangan dan berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang dan komunitas lain. Biasanya ada kegiatan beach clean-up bersama dengan aksi tanam mangrove di daerah Mangkang, dilanjutkan dengan kegiatan memilah sampah dari hasil clean up tersebut. Beragam jenis sampah ditemukan seperti sampah plastik, sedotan plastik, popok, puntung rokok hingga bantal bekas pun ada. Dalam satu kali clean up di satu pantai, sampah yang didapat mencapai 5 kg.

Sampah hasil clean up tersebut lalu diserahkan kepada DLH untuk penanganan selanjutnya, karena DLH memiliki bank sampah serta fasilitas lain sehingga sampah tersebut dapat diolah menjadi produk daur ulang. Untuk sampah plastik kering, biasanya dibuat menjadi produk ecobrick seperti kursi dan meja dengan melibatkan masyarakat dalam pembuatannya. Kegiatan clean up ini dilakukan terakhir di tahun 2019 sebelum adanya pandemi Covid-19.

Di samping itu, Seangle Semarang juga memiliki kegiatan edukasi berupa gerakan untuk berpindah dari sedotan plastik menjadi sedotan stainless atau sedotan bamboo yang disosialisasikan ke warung dan kafe. Tak hanya itu, Seangle juga memiliki kegiatan edukasi di desa binaannya di daerah Mangkang seperti melibatkan ibu-ibu PKK dalam kegiatan bank sampah dan pembuatan ecobrick dan siswa sekolah dasar dalam kegiatan Rukiah atau Rumah Pendidikan Sampah.

Tips Mengurangi Sampah di Rumah

Hima juga menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pelajar maupun masyarakat umum dalam upaya mengurangi sampah yaitu :

  1. Melakukan kegiatan 3R : Reduce, Reuse, Recycling
  2. Beralih ke barang yang bisa dipakai berulang kali seperti dari sedotan plastik menjadi sedotan bamboo, dari kantong plastik menjadi kantong kain
  3. Gabung ke komunitas peduli lingkungan, turut serta kegiatan bank sampah, atau bahkan menginisiasi bank sampah di daerah masing-masing

Setelah pandemi ini mereda, semoga kita bisa turun kembali ke lapangan dan kembali melawan sampah ini. Saat ini kita bisa mulai praktik untuk melawan sampah di skala rumah tangga.

Saksikan Bintang Laut Episode 01 disini!

Mima Ratna Maya