TAKA dan UNDIP mengadakan Lokakarya serta Pelatihan Harvest Control Rule di Semarang

ndonesia merupakan negara kepulauan sekaligus negara maritim terbesar di dunia dengan total 2/3 wilayahnya diselimuti oleh lautan. Mulai dari laut dalam, permukaan hingga pesisir memiliki sumberdaya melimpah yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi maupun kepentingan pakan. Hasil laut Indonesia yang hingga kini bisa dinikmati oleh semua kalangan berupa sumberdaya perikanannya. Salah satu komoditas perikanan yang bisa kita temukan adalah kepiting bakau (Scylla sp).

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan crustcea di Indonesia yang saat ini mulai diirik di pasar internasional yang saat ini bisa disejajarkan dengan perikanan rajungan dan lobster. Hal tersebut berbanding lurus dengan banyaknya penangkapan kepiting bakau guna memenuhi permintaan pasar baik domestik maupun mancanegara. Namun, pengelolaan penangkapan kepiting bakau di Indonesia saat ini yang masih sangat lemah menjadi masalah laten yang apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak pada kolapsnya perikanan kepiting bakau di kemudian hari. Masa hidup kepiting bakau yang tergolong pendek (short – life pecies) diperparah dengan penangkapan yang dilakukan secara terus menerus hampir setiap hari (one-day fishing).

Dari hasil data pendaratan (landing) kepiting bakau di Desa Mojo oleh TAKA dari awal tahun 2014 hingga pertengahan tahun 2015 mencatat hampir 90% kepiting bakau yang ditangkap berukuran 300 gram ke bawah dengan didominasi oleh kepiting bakau ukuran 150 – 200 gram. Selain itu, sering kali ditemukan kepiting bakau dengan berat 150 gram sudah memiliki telur yang siap untuk release ke alam. Hal tersebut diduga salah satunya adalah penangkapan yang dilakukan hampir setiap hari sehingga membuat pergeseran pada kondisi biologis reproduksi kepiting bakau. Apabila kita mengacu pada Permen KP No. 1 Tahun 2015 maka hasil tangkapan kepiting di Pemalang masuk ke dalam “zona merah” penangkapan. Oleh karena itu manajemen penangkapan kepiting bakau yang berkelanjutan sangat urgensi untuk dilakukan.

Ditengah belum masif-nya data pendaratan komoditas perikanan terutama perikanan kepiting bakau saat ini perlu adanya metode pencatatan stok dengan data terbatas salah satunya dengan metode historical catch. Historical catch merupakan metode pendugaan pendaratan komoditas perikanan yang diinisasi pertama kali oleh University of British Columbia, Canada. Hasil data historical catch tersebut yang nantinya menjadi bahan dasar dalam penentuan Harvest Control Rule (HCR). HCR inilah yang nantinya berfungsi dalam membuat proyeksi langkah pengelolaan perikanan.

TAKA bekerjasama dengan akademisi dari Universitas Diponegoro, Semarang mengadakan lokakarya dan pelatihan Harvest Control Rules perikanan kepiting bakau di Semarang, Jawa Tengah 24 Juni 2016. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa akademisi dari UNDIP serta dari WWF-Indonesia. Para peserta kegiatan sepakat jika pengumpulan data baik data landing maupun data biologi dari suatu spesies perikanan perlu diperbaiki secara berkesinambungan, peran tersebut tidak hanya menjadi tanggungjawab perikanan tapi kita semua para pelaku perikanan, dari hulu ke hilir, dari pemerintah sampai nelayan itu sendiri.