Sampah di Kota Malang

Apa yang kawan-kawan pikirkan setelah melihat atau mendengar kata ‘sampah’? Sesuatu yang Bau? kotor? Penyakit? Polusi? Banjir? Iya, pada intinya hampir semua orang memandang sampah adalah sebagai sebuah ‘masalah’.

Masih kurangnya kesadaran kita dalam membuang sampah pada tempatnya memperburuk kondisi lingkungan yang kita tinggali. Selain itu, manajemen pengelolaan sampah yang masih kurang baik menjadi isu yang harus kita perhatikan, sampah-sampah yang diangkut truk khusus setiap hari hanya ditumpuk begitu saja di TPA tanpa diapa-apakan lagi dan dari hari ke hari semakin menumpuk menjadi gunungan sampah yang bisa kita lihat di TPA tempat tinggal kita masing-masing.

Isu sampah merupakan isu nasional yang mau tidak mau perlu adanya penanganan komprehensif dari hulu ke hilir, berbagai sektor masyarakat, serta tentu saja dukungan dari pemerintah. Dikeluarkannya Undang-undang no. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah (PP) nomor 81 tahun 2012 serta Permen LH nomor 13 tahun 2012 adalah deretan peraturan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Namun, peraturan hanyalah tulisan di atas kertas yang tidak akan mempunyai arti tanpa adanya implementasi yang nyata di lapangan.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel di web mengenai pengelolaan sampah di salah satu kota di Jawa Timur, dimana kota tersebut telah meng-klaim keberhasilan mereka dalam hal pengelolaan sampah. Satu hal yang membuat saya tertarik adalah di dalam artikel tersebut dituliskan pemerintah di kota tersebut telah berhasil merubah paradigma hampir sebagian besar masyarakat yang pada awalnya menganggap sampah adalah sumber masalah menjadi sampah adalah harta karun yang tersembunyi. Dan akhirnya saya memantabkan diri untuk melihat lebih dekat kebenaran dari isi artikel tersebut.

Selasa, 24 Maret lalu, pertama kalinya saya melangkahkan kaki di kota Malang, yup’s, kota di Jawa Timur yang saya baca di salah satu web tadi. Kesan pertama yang lihat mengenai kota Malang adalah bersih. Kemudian, saya bertanya kepada warga sekitar mengenai alamat yang ingin saya tuju. Tak mau berlama-lama setelah mendapatkan informasi saya segera naik angkot dan akhirnya sampailah di tempat yang saya tuju, Bank Sampah Malang (BSM).

Saya bergegas menuju ruang ‘resepsionis’ untuk meminta bertemu dengan Pak Rahmat, Direktur BSM, setelah menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke sini. Namun, saya sedikit kecewa karena direktur sedang pergi ke Yogja untuk suatu urusan pekerjaan. Akhirnya saya dipertemukan oleh Pak Rusman, kepala divisi produksi BSM, beliau juga sering menjadi ujung tombak BSM untuk sosialisasi mengenai konsep bank sampah ini ke masyarakat Malang

menggantikan Pak Rahmat. Cukup untuk mengurangi rasa kecewa saya karena pak Rusman salah satu tonggak sejarah dari awal berdirinya BSM hingga sekarang ini.

Saya diijinkan oleh Pak Rusman untuk berkeliling melihat proses pemilahan hingga produksi sampah di sepanjang area kantor. Ternyata kantor ini memiliki gudang yang cukup besar untuk menampung sampah yang telah diangkut dari warga. Setiap harinya kurang lebih 1 ton sampah non-organik ditampung di dalam gudang seluas hampir 200 m2 ini yang kemudian di pilah kembali berdasarkan tipe sampah yang telah dikelompokan sebelumnya. Salah satu staff operasional mengajak saya untuk ikut masuk ke dalam mobil pickup untuk pergi mengambil sampah ke salah satu nasabah. Tanpa berpikir 2 kali, segera saya iyakan untuk bergabung dan segera masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, mas Mulyadi (staff operasional yang mengajak saya tadi) menceritakan menceritakan pengalamannya selama di BSM dalam mengambil sampah ke nasabah (panggilan untuk warga Malang yang menjadi anggota BSM). Tempat yang kita tuju ini lumayan tidak terlalu jauh dari kantor, kurang lebih 10 menit kita sudah sampai ke salah satu gang perumahan yang tidak terlalu lebar jalan masuknya untuk mobil pickup yang saya tumpangi. Tiba di depan sebuah rumah kami disambut oleh 3 orang Ibu-ibu, terlihat beberapa buah karung berdiri di samping rumah dekat ibu-ibu tersebut berdiri. Saya berani menebak bahwa karung-karung itu berisi sampah. Dugaan saya tidak meleset, sampah-sampah plastik dari botol, gelas dan semacamnya terisi penuh di dalam karung dan masih ada lagi beberapa sampah keras yang saya lihat di belakang pagar rumah.

Yang membuat saya heran adalah tidak adanya rasa jijik ataupun risih dari ibu-ibu ini dengan apa yang mereka lakukan, yang saya lihat ibu-ibu ini terlihat bersemangat. Dengan cekatan mereka membantu mencatat sampah yang ditimbang oleh mas Mus, memperlihatkan kegiatan ini sudah lama mereka lakukan. Saya memberanikan diri bertanya beberapa hal terkait dengan aktivitas pengumpulan sampah ini ke salah satu ibu yang saya lihat lumayan vocal, saya berpikir beliau ini adalah ketua ‘genk’nya dari ibu-ibu ini. Hehehe… nama beliau Bu Kusmiyati

Dari apa yang dijelaskan oleh ibu Kusmiyati tadi, saya mulai paham mengenai system pengumpulan sampah di sini. Awalnya tiap RT ataupun RW membentuk kelompok dan memilih satu orang ketua, bendahara, maupun sekretaris untuk mempermudah koordinasi dalam pengumpulan sampah, kemudian kelompok tersebut mendaftar ke BSM untuk menjadi nasabah/anggota. Setelah itu tiap-tiap kelompok mendapatkan buku tabungan yang di dalamnya terekam segala macam transaksi dari hasil pengumpulan sampah. Nantinya sampah yang kami timbang tadi akan dihitung dan kemudian dimasukan ke dalam tabungan kelompok yang bernama kelompok ‘ANGGREK I’ ini. Ibu Kus menjelaskan bahwa dalam satu tahun tabungan sampah apabila dirupiahkan bisa mencapai 5 juta bahkan lebih, dan kemudian hasil tersebut dibagi-bagikan kepada anggota kelompok untuk dijadikan persiapan membeli kebutuhan pokok

dan kue menjelang lebaran. “Hasilnya lumayan tapi yang penting masyarakat bisa guyub gitu lho, mas”. Kata Bu Kus. Ternyata bukan hanya prise yang mereka dapat dari hasil menabung sampah, ‘guyub’ atau ‘kumpul’ menjadi salah satu alasan mengapa Ibu Kus ikut dalam kegiatan menabung sampah ini.

Ada satu tempat lagi yang kami kunjungi untuk pengambilan sampah sebelum kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, mobil pickup segera menuju gudang operasional untuk dilakukan pemilahan kembali sampah yang telah diangkut. Tercatat total ada 70 jenis sampah yang telah dikelompokan. Sebagian sampah dijual pada lapak/pengepul dan sebagian lagi diolah kembali menggunakan mesin dan kemudian dijual ke pabrik. Biasanya sampah yang diolah kembali adalah sampah berbahan dasar plastik.

Kepala divisi operasional menawarkan saya untuk ikut masuk melihat proses pengolahan botol dan gelas plastik menjadi bijih plastik. Lagi-lagi saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. divisi produksi ini terintegrasi dengan operasional karena proses produksi tidak akan berjalan apabila bahan baku tidak tersedia. Botol yang sudah bersih di masukan ke dalam sebuah ruangan yang diset sedemikian rupa agar mudah masuk ke dalam mesin pencacah. Setelah botol-botol tersebut dicacah kemudian dijemur satu malam agar kering dan siap dipacking kemudian dikirimkan ke pabrik untuk dijual kembali.

Upaya serius pemerintah daerah mampu sedikit demi sedikit merubah cara pandang dan perilaku masyarakat mengenai pengeloaan sampah. pada tahun 2013 nasabah yang bergabung mencapai 21 ribu orang. Jumlah pembuangan sampah di kota Malang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pengangkutan sampah melalui gerobak sampah menurun hingga kurang lebih 50% perhari.

Sebagai masyarakat yang bijak kita bisa membantu dalam mengurangi permasalahan sampah di tempat tinggal kita masing – masing :

  1. Membuang sampah pada tempatnya. Apabila kita belum menemukan tempat sampah kita bisa menyimpan sampah terlebih dahulu dan menyimpannya sampai kita menemukan tempat sampah terdekat
  2. Memilah sampah sesuai dengan kelompoknya, misalanya sampah organik tidak dicampur dengan sampah non-organik atau sampah kering tidak dicampur dengan sampah basah
  3. Tentu saja dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan berdasar plastik. Plastik adalah bahan yang sangat sulit terurai dan terbuat dari minyak bumi. Kemudian jangan bakar bahan-bahan plastik tersebut karena akan menghasilkan polusi udara yang lumayan tinggi.
  4. Mendorong kepada pemerintah daerah masing-masing dalam pembuatan kebijakan mengenai pengelolaan sampah
  5. Memberikan informasi ini kepada teman-teman dan juga keluarga