Bumi Pertiwi Perbatasan di Pedalaman Paloh, Kalimantan Barat

Pertama saya sedikit ragu ketika ditempatkan di Daerah Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat oleh TAKA sebagai anak magang 3 bulan dari Bulan Agustus sampai Oktober. Namun, setelah berdiskusi panjang lebar dengan mas Miko serta mas Yoga, keyakinan saya bertambah 100 % untuk menetap dalam kurun waktu yang tidak sebentar di Paloh.

Oh, iya pertama perkenalkan dulu nama saya Ganang Dwi Prasetyo mahasiswa S2 Institut Pertanian Bogor dari Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan semester akhir. Saat ini saya sedang melakukan riset untuk tesis saya dan bahan riset yang saya ambil tidak jauh dari modifikasi alat tangkap terkait mitigasi biota laut. Hal ini yang mengantarkan saya untuk ikut menjadi anak magang di Yayasan TAKA untuk melakukan riset di Paloh terkait pemasangan lampu LED pada jaring gillnet guna mengatasi bycatch penyu di Paloh.

Bergegas dari Pontianak pada pukul 07.00 pagi bergerak menuju Paloh. Kami menikmati perjalanan kami yang terasa panjang, dikelilingi pepohonan rindang, dengan segala keasrian wilayah Kalimantan Barat ini. Sebagai salah satu orang yang pertama kali menginjak bumi Kalimantan, saya tertegun dalam perjalanan. Hal itu dimulai dari infrastruktur jalan hingga moda transportasi. Moda transportasi umum dengan bus yang mengantarkan penumpang dari Pontianak hingga Sambas, tampak bus tersebut sudah tidak layak pakai, dan uniknya tidak sedikit kami melihat bahwa sepeda motor dapat diangkut, dengan ditempatkan di atap bus. Dalam perjalanan, kami singgah sejenak untuk beristirahat, tepatnya di daerah Singkawang. Terdapat salah satu penjaga warung tersebut, dan bertanya kepada kami. “Bang mau kemana” tanya ibu penjaga warung, kami menjawab “Ingin ke Paloh bu” dengan tersenyum, ibu penjaga warung bertanya kembali “wah mau cari telur penyu ya”, dan kami hanya menjawab dengan senyuman. Paloh memang dikenal merupakan daerah yang dimana banyak penyu bertelur, hal ini tidak lepas dari ukuran panjang pantai Paloh merupakan yang terpanjang di Indonesia yakni ± 50 – 60 km. Dengan pertanyaan terakhir ibu penjaga warung tersebut, membuat kami merenung sejenak bahwa ternyata masih banyak masyarakat sekitar Paloh berfikir eksploitasi penyu untuk tujuan komersial masih berjalan. Jelas hal ini sangat bertentangan dengan kami, yang mana tujuan kami ke Paloh salah satunya untuk memonitoring kegiatan konservasi penyu yang sudah berjalan disana. Setelah dari warung tersebut kami melanjutkan perjalanan.

Untuk sampai ke Paloh kami harus menyeberang muara besar, dari daerah Tanjung Ketat ke Teluk Kalung, dimana disana ada moda kapal laut. Medan terjal kami lalui, batu-batuan dilapisi aspal yang tidak sempurna menghiasi perjalanan kami menuju Pelabuhan penyeberangan. Setibanya di Pelabuhan Tanjung Ketat kami terhenti, karena harus mengantri untuk menaiki kapal. Armada kapal laut yang hanya tersisa 1 buah, membuat kami menunggu cukup lama, terlebih disaat yang bersamaan ternyata kapal tersebut mengalami sedikit masalah. Pukul 19:00, akhirnya kami naik kapal, 15 menit waktu yang dibutuhkan kapal untuk mengantarkan kami ke Teluk Kalung, dan setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali. Bebatuan yang terjal kembali meghiasi perjalanan kami, dimana total perjalanan kami tidak terasa sudah memakan waktu 12 jam. Akhirnya pukul 21:30 kami tiba di kantor WWF Paloh, dan langsung bergegas untuk istirahat.

Inilah kapal untuk penyeberangan Tanjung Ketat – Teluk Kalung

Keesokan harinya, saya bersama pihak WWF dan kedua mahasiswa dari James Cook University, menuju pantai Sungai Belacan, dimana terdapat Camp untuk monitoring penyu disana. Untuk sampai di daerah tersebut, medan jalan yang terjal dan sempit harus kami lewati, serta harus melalui penyeberangan muara kembali yaitu dari daerah Sungai Sumpit menuju Cermai, dengan kapal tradisional setempat yang biasa digunakan sebagai moda angkut penyeberangan masyarakat. Penyeberangan memakan waktu ± 10 menit, setelah itu kami melanjutkan perjalanan.

Medan jalan yang sulit menghiasi kami menuju Sungai Belacan
Moda angkut penyeberangan menuju daerah Cermai

Sesampainya di Camp kami berjumpa dengan Bapak Tam dan Pak Andi, yang bertugas monitoring penyu disana. Kami diajaknya ke pantai untuk melihat proses penyu bertelur. Baru sampai di pantai, kami melihat beberapa jejak penyu naik ke pantai, dan sarang beserta telur penyu yang tersisa setelah melalui penetasan. Pukul 20:00 kami menyusuri pantai, dan kami diberi konfirmasi bahwa terdapat penyu yang telah naik ke pantai untuk melakukan proses peneluran. Kami bergegas ke lokasi tersebut, dan benar adanya terdapat penyu yang sedang menggali pasir untuk membuat sarang. Perlu diketahui untuk mengamati penyu yang sedang bertelur, tidak boleh ada cahaya, karena akan mengganggu penyu untuk bertelur. Kurang lebih 1 jam kami menunggu, ternyata penyu tersebut tidak jadi bertelur, dan penyu tersebut berbalik arah untuk kembali ke laut. Penyu yang kami lihat merupakan penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu hijau tersebut tidak jadi bertelur diindikasikan karena lingkungannya. Lingkungan ini misalnya, apakah terdapat akar pohon yang menjulang disekitar sarang yang digali oleh penyu dan sampah. Kami menyoroti banyaknya sampah di pantai tersebut. Ketika kami melihat sarang yang telah digali penyu namun tidak jadi sebagai tempat bertelurnya, memang terdapat akar pohon yang menjulang dan sampah. Sampah tersebut berupa sampah plastik, botol, kertas, dan lain-lain.

Sarang penyu yang dikelilingi sampah dan akar yang menjulang
Penyu hijau (Chelonia mydas) yang kami lihat berbalik arah menuju laut

Pentingnya perlindungan teradap sumberdaya penyu sudah disosialisasikan kepada masyarakat Paloh, namun masih beberapa orang melakukan pencurian telur penyu untuk di komersilkan. Namun, di lain sisi, pemanfaatan sumberdaya penyu dirasakan sudah semakin berkurang hingga saat ini. Andil masyrakat dalam perlindungan penyu menjadi kuncinya. Lebih lanjut kedepannya, diharapkan, selain memonitoring penyu, juga perlu ditanamkan kesadaran lingkungan pantai bersih, bukan hanya untuk penyu, tapi juga untuk masyarakat sekitar, karena wilayah pantai Paloh memiliki potensi yang tinggi baik dalam segi hal sumberdaya alam maupun wisata. Perbaikan infrastrukstur jalan raya juga diperlukan, misalnya dibangunnya jembatan, hal ini dikarenakan kurang efektif dan efisiennya transportasi yang berjalan ketika hendak melakukan penyeberangan mengandalkan moda kapal tradisional setempat dengan jarak yang terhitung dekat. Jembatan merupakan penyambung antar wilayah yang terpisah, yang paling efektif dan efisien guna melancarkan transportasi. Selain itu juga, diharapkan perbaikan medan jalan raya yang sulit dan terjal, serta penerangan lampu jalan. Infrasturktur yang baik maka akan berdampak baik pada pengembangan suatu wilayah, dan harapan ini salah satunya ditujukan bagi daerah perbatasan nan indah, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Ganang Dwi Prasetyo