Reef Health Monitoring TN Komodo

Nanti kawan-kawan jangan lupa kalo ada arus pegangan batu atau karang keras yang ada di sekitar ya! Atau jika kalian bawa hook lebih baik”.

Begitulah pesan mas Ghofur, Dive Master yang menjadi guide kami selama melakukan pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di Taman Nasional Komodo. Kondisi arus yang kencang menjadi wanti-wanti mas Ghofur terhadap kami selama melakukan aktivitas penyelaman. Kondisi arus di perairan Komodo memang terkenal kuat di kalangan para penyelam. Terutama di beberapa site penyelaman seperti Batu Tiga, Manta Alley, Shotgun dll. Namun, kondisi tersebut kurang begitu mengganggu aktivitas kami selama melakukan monitoring.

Selama 6 hari, TAKA bersama dengan WWF dan Taman Nasional Komodo melakukan aktivitas pendataan/monitoring kesehatan terumbu karang (Reef Health Monitoring) di area perairan Taman Nasional Komodo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

RHM sendiri merupakan salah satu metode pemantauan ekosistem terumbu karang yang bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan terutama di dalam Kawasan Perlindungan laut. Dengan mengetahui kondisi perairan maka kita bisa mengukur efektifitas pengelolaan KKP.

Protokol Pelaksanaan RHM

Persiapan

Sebelum aktivitas pengambilan data ekosistem dilakukan, terlebih dulu kita melakukan penentuan titik lokasi pemantauan. Penentuan lokasi pemantauan ditentukan dari hasil studi pustaka; pengumpulan informasi tebaru dari Instansi setempat, nelayan, dive operator maupun masyarakat lokal yang berada di sekitar lokasi pemantauan; laporan-laporan hasil riset maupun hasil citra yang ter-update.

Selain itu, survey terkait dengan logistik, persiapan alat selam, akses ke lokasi pemantauan, serta tempat rumah sakit terdekat juga perlu dipersiapkan agar aktvitas pemantauan bisa berjalan dengan maksimal.

Pengambilan Data Ekosistem Terumbu Karang

Dalam aktivitas pemantauan, data yang diambil adalah antara lain :

  1. Karang/Substrat
    Penyelam berenang sepanjang transek dengan panjang maksimal 3x50m dan mencatat semua kategori bentuk pertumbuhan substrat dibawah transek pada interval 0,5m sepanjang transek. Jika meteran tidak berada tepat pada atau langsung di atas karang, maka dapat dipilih titik yang berada pada lereng terumbu pada kedalaman yang sama dan segera disesuaikan dengan posisi titik pada meteran yang ada di lereng terumbu (dengan menutup mata anda dan menggunakan sebuah penggaris untuk memilih titiknya).
  2. Data Invertebrata
    Pengambilan data invertebrata indikator menggunakan belt transek. Yaitu transek garis dengan dimensi pengamatan 2,5 meter ke kanan dan ke kiri. Kemudian mencatat semua jenis invertebrata indikator yang terdapat dalam transek. Jumlah Transek 3 x 50 meter sehingga terbagi 3 segmen dan jarak setiap transek nya 5 meter agar ada jeda sehingga terbagi 3 segmen. Panjang garis transek mengikuti transek pada karang. Indikator invertebrata yang di ambil datanya meliputi invertebrata Banded Coral Shrimp, Diadema Urchin, Pencil Urchin, Collector Urchin, Edible Sea Cucumber, Crown of Thorns, Triton, Lobster, Giant Clam.(S. English, C. Wilkinson and V. Baker, 1994)
  3. Komunitas Ikan Ekonomis Penting dan Herbivora
    Pengambilan data ikan karang menggunakan belt transek. Yaitu transek garis dengan dimensi pengamatan 2,5 meter ke kanan dan ke kiri serta 5 meter ke atas. Kemudian mencatat kepadatan jenis ikan tingkat spesies dan ukurannya dengan metode “Visual Census” dengan cara mencacah seluruh objek di sepanjang garis transek tersebut. Panjang garis transek mengikuti transek pada karang (S. English, C. Wilkinson and V. Baker, 1994).

Transek sabuk digunakan karena memiliki ketelitian yang tinggi, dan sesuai untuk pemantauan dengan berbagai tujuan (perikanan dan ketangguhan) dan karenatransek ini dapatdilewati berkali-kali untuk menghitung jenis yang berbeda (Greendan Bellwood, in press).Metode ini merupakan teknik yang paling efektif untuk memantau sebagian besar ikan-ikan karang yang sesuai dengan teknik sensus visual. Walaupun demikian, transek harus dikombinasikan dengan metode long swim,Pada saat kedua pengamat ikan telah mencapai bagian yang paling akhir dari transek 5 x 50 m pada kedalaman 10 m, mereka akan melanjutkan dalam arah yang sama untuk melakukan long swim untuk survei ikan karang target dan herbivora besar dan rentan sesuai daftar seperti dijelaskan oleh Choat dan Spears (2003). Metode long swim terdiri dari 20 menit berenang pada kecepatan berenang standar (sekitar 20 m per menit).

Sebagai catatan, protokol di atas bersifat fleksibel. Dalam pelaksanaannya peneliti bisa mempertimbangkan mengenai SDM, keterbatasan biaya, akses, maupun waktu.

Pengambilan data ekologi dalam Reef Health Monitoring TN Komodo

Daftar Pustaka :
Clark, S. &Edwards, A.J. 1999.An evaluation of artificial reef structures as tools for marine rehabilitation in the Maldives.Aquatic Conservation: Marine Freshwater Ecosystems, 9 : 5-21 Harrington, L., Fabricius, K., De’ath, G., Negri, A.P., 2004. Recognition and selection of settlement substrata determine post-settlement survival in corals. Ecology 85, 3428–3437.

Kulbicki.M & Guillemot.N. 2005. A General Approach to Llength-Weight Relationship for New Caledonian Lagoon Fishes. Cybium, 29(3): 235-252

S. English, C. Wilkinson and V. Baker. 1994. Survey manual for tropical marine resources. Australian Institute of Marine Science.

Wilson J.R & Green.A.2009. Metode Pemantauan Biologi untuk Menilai Kesehatan Terumbu Karang dan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia (terjemahan).Versi 1.0. Laporan TNC Indonesia Marine Program No1/09. 46 hal