Pengelolaan Sampah di Labuan Bajo, Kepualauan Komodo

Sampah tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Kenyataan ini diperparah dengan bertambahnya populasi manusia setiap tahun.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa populasi penduduk dunia akan bertambah dari 7,2 milyar jiwa saat ini menjadi 8,1 milyar pada 2025, dengan pertumbuhan paling besar ada di Negara berkembang dan lebih dari setengahnya di Afrika. Laporan dari Bank Dunia yang berjudul “What a Waste: A Global Review of Solid Waste Managemen” menyebutkan sampah padat di kota-kota pada tahun 2025 naik dari 1,3 miliar ton per tahun menjadi 2,2 miliar ton per tahun, berarti dalam 10 tahun ke depan kepadatan sampah akan naik sebesar 70 persen. Sedangkan di Indonesia, disebutkan bahwa produksi sampah padat secara nasional mencapai 151.921 ton per hari. Hal ini berarti, setiap penduduk Indonesia membuang sampah padat rata-rata 0,85 kg per hari. Data yang sama juga menyebutkan, dari total sampah yang dihasilkan secara nasional, hanya 80% yang berhasil dikumpulkan. Sisanya terbuang mencemari lingkungan.

Para peneliti memperkirakan 100 hingga 150 ton sampah yang ditemukan di laut adalah sampah plastik. Jumlah ini akan semakin bertambah tiap tahunnya sekitar 6,5 juta ton. Seperti kita ketahui, negara kita, Indonesia, merupakan Negara kepulauan yang hampir 75 persen(5,8 juta km2) di selimuti oleh laut. Sampah khususnya sampah plastik sering ditemukan di dalam perut hewan laut yang sudah mati, seperti penyu dan burung laut. Industri pariwisata juga tersentuh kerugian dari sampah yang dihasilkan, sampah plastik mengakibatkan kualitas wisata alam semakin menurun dan secara ekonomi berdampak pada berkurangnya devisa Negara dari sektor pariwisata. Salah satunya adalah pariwisata di Labuan bajo, hasil studi pada bulan mei 2014 yang dilakukan oleh WWF – Indonesia total volume sampah seukuran tas plastic 40×50 cm sebesar 328.063.275 cm3/328 m3 dalam satu hari

Pengelolaan sampah yang terintegrasi dipandang sebagai salah satu solusi yang efektif dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dipandang sebagai solusi yang tepat di impelmentasikan di Indonesia dengan konsep Bank Sampah. Salah satu pengelolaan dengan konsep bank sampah adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo. Koperasi ini didirikan pada bulan November 2014 dengan semangat konservasi mengurangi sampah yang menjadi masalah di kepualauan Komodo.

TAKA yang juga memiliki kesamaan ide dengan KSU dalam mewujudkan semangat konservasi dengan melakukan bisnis yang berkelanjutan dipercaya membantu koperasi dalam mengembangkan kapasitas internal dan eksternal KSU Sampah Komodo.

Pada tanggal 27 Februari sampai 2 Maret 2015 lalu TAKA berkunjung ke Labuan Bajo untuk bertemu dengan team dari KSU Sampah Komodo. Dalam pertemuan kali ini, TAKA memimpin jalannya diskusi yang diikuti oleh hampir sebagian besar anggota KSU Sampah Komodo dan satu orang dari WWF-Indonesia. Pembahasan pertama mengenai kebijakan organisasi

Koperasi meliputi struktur kepengurusan, tata cara rapat dan juga jalannya organisasi. Seterusnya pembahasan mengenai kebijakan keadministrasian dan pembahasan tantangan-tantangan yang akan dihadapi oleh koeprasi serta strategi-strategi yang akan dilakukan untuk menjalankan roda organisasi.

Diskusi berjalan dengan santai, namun tidak mengurangi antusiasme dan keseriusan anggota koperasi dalam memberi masukan dan pandangan mengenai perjalanan organisasi kedepan. “Kita bisa menjalin kerjasama dengan berbagai pihak baik itu dari instansi pemerintah dalam hal ini adalah Balai Taman Nasional komodo, dan juga para para pelaku wisata seperti dive center dan wisatawan yang datang ke Labuan Bajo,” masukan dari pak Kennedy. Pak Kennedy sendiri adalah salah satu anggota KSU Sampah Komodo dan kepala RT di Kampung Ujung yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Tentunya perwujudan kerjasama dengan berbagai pihak, mewujudkan Kepualauan Komodo yang bersih dari sampah tentu bukan hal yang mustahil.