Penasaran Akan Jumlah Sampah yang Dihasilkan Tiap Orang? Gunakan Metode Ini!

Permasalahan persampahan di Indonesia masih sangat kompleks. Terdapat perkotaan dengan besarnya penduduk dan keragaman aktivitas, terdapat pedesaan dengan pengelolaan sampah yang belum menyeluruh, terdapat pula daerah wisata dengan jumlah wisatawan yang meningkat, dan lain sebagainya. Model pengelolaan sampah yang selama ini digunakan adalah KUMPUL-ANGKUT-BUANG. Menurut Damanhuri (2010), diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), yang operasi utamanya adalah pengurugan. Banyaknya komposisi sampah yang ada, tidak menutup kemungkinan pula sampah ini berakhir ke laut.

Berangkat dari keresahan mengenai kondisi sampah yang ada di laut, pendataan sampah yang ada di darat pun dilakukan. Pendataan dapat dilakukan di tingkat kabupaten/kota maupun di tingkat desa. Pendataan ini pun mengacu kepada suatu metode yang terstandarisasi SNI yaitu SNI 19-3964-1994 mengenai metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan. Selain itu, pendataan ini juga bersumber dari SNI 19-2454-2002 mengenai tata cara teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan (Baca disini)

Pendataan diawali dengan survei lokasi serta mengumpulkan data sekunder. Data-data tersebut mencakup data tingkat ekonomi, jumlah penduduk, dan jumlah KK. Data-data tersebut dapat diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), maupun Badan Pusat Statistik (BPS). Detailnya, pendataan sampah dapat dilakukan di skala rumah tangga (household) maupun non rumah tangga, TPS, dan TPA di wilayah pendataan.

Lalu bagaimana pendataan sampahnya dilakukan? Bagaimana cara mengetahui jumlah timbulan sampah yang dihasilkan?

Metode Pendataan Sampah Rumah Tangga (Plastic Free Ocean Network, 2021)
Metode Pendataan Sampah TPA (Plastic Free Ocean Network, 2021)

Selama 8 hari, sampah yang ada di tingkat rumah tangga dan non rumah tangga dikumpulkan. Sampah tersebut ditimbang dan diukur volumenya. Data berat timbulan sampah per hari ini nantinya dapat menjadi data hasil timbulan (kg/orang/hari). Dari data hasil timbulan (kg/orang/hari) selama 8 hari tersebut, dapat pula dihitung jumlah rata-ratanya dengan cara. Perhitungan dapat dilakukan dengan rumus berikut:

Rumus perhitungan timbulan sampah dan rata-rata per harinya

Pada sampah non rumah tangga seperti restoran, hotel, maupun toko, faktor pembaginya adalah jumlah kursi pada restoran maupun jumlah kamar pada hotel.

Selanjutnya sampah yang dikumpulkan dibagi lagi menjadi 9 komposisi yaitu sampah organik, botol plastik, gelas plastik, plastik kresek, plastik logam, plastik-plastik, sterofoam, sedotan plastik, dan juga tekstil. Sama halnya dengan yang diatas, setiap komposisi pun ditimbang beratnya dan diukur volumenya.

Penelitian ini harus dilakukan dengan bekerjasama bersama masyarakat maupun pemerintah setempat. Pendekatan sosial melalui wawancara kuesioner pun dilakukan dengan masyarakat setempat untuk mengetahui aksi maupun solusi apa yang dapat kita berikan di wilayah tersebut terkait pengelolaan sampah. Karena peran masyarakat inilah yang nantinya akan membantu dalam upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Upaya sekecil apapun, akan berdampak penting.

Apakah kamu penasaran dengan jumlah sampah di desamu atau di daerah rumahmu? Kamu bisa menggunakan metode mudah ini untuk mengetahui jumlah timbulan sampah di lingkunganmu.


Maylissa Bunga