Bintang Laut : Citizen Science untuk Konservasi Elasmobranchii

Coba anda bayangkan keberadaan hiu dan pari yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, hanya didata oleh 1 atau 2 orang saja. Sulit sekali bukan? Itulah mengapa perlu adanya sumber daya manusia dari seluruh daerah Indonesia yang mumpuni untuk melakukan pendataan persebaran Hiu Pari di Indonesia. Dan setiap orang yang berkontribusi dalam kegiatan pendataan tersebut, dapat dikatakan sebagai citizen science loh.

Bersama Kak Ashma Hanifah sebagai Community Engagement Elasmobranch Project Indonesia (EPI), Bintang Laut Episode 11 membahas mengenai Citizen Science untuk Konservasi Elasmobranchii. EPI merupakan suatu project yang sudah ada sejak Juni 2020. EPI memiliki visi untuk melakukan pendataan dan pemetaan keanekaragaman serta distribusi elasmobranch di Indonesia. Dalam praktiknya, masih banyak yang beranggapan bahwa hanya orang-orang akademisi ataupun di bidang tertentu seperti kelautan dan perikanan saja yang bisa melakukan pendataan ilmiah. Padahal citizen science boleh dilakukan oleh siapa aja loh. Kamu dari jurusan Hukum ataupun Bahasa Inggris, bisa bergabung juga. Menarik bukan?

Misalnya kita sedang melakukan kegiatan diving, dan menemukan satu spesies dari elasmobranch, dokumentasikanlah. Berkat teknologi masa kini, teman-teman bisa mengunggah hasil foto kalian menggunakan platform di EPI dan memasukkan data lain yang dibutuhkan. Data tersebut kemudian akan divisualisasikan melalui peta dan terlihat titik lokasi dari persebaran elasmobranch. 

Elasmobranch sendiri merupakan predator puncak yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem di laut. Mereka berperan memangsa ikan dalam kondisi lemah atau sakit sehingga tidak ada satu spesies dengan populasi berlebihan. Hal ini menunjukkan Elasmobranchii merupakan indikator kesehatan ekosistem laut kita. Dibanding dengan spesies elasmobranch lain yang bersifat agresif, ada spesies yang bersifat ramah dengan para penyelam loh seperti hiu pari dan manta. Spesies ini pun dijadikan objek wisata yang dikembangkan di Indonesia. 

“Dari hasil laporan pendataan yang dilakukan tim EPI, ada spesies yang unik gak sih kak?”

Ada. Salah satunya walking Shark di Raja Ampat. “Menurut aku yang berkesan juga ialah ketika kita mendapatkan spesies yang terancam, tapi sudah didaratkan. Cukup sedih juga sih.” Dilematis memang ketika kegiatan konservasi kita lakukan, tidak dengan mudah masuk ke masyarakat pesisir lainnya. Kak Hani pun mengatakan ia pernah mendata hiu dan pari di TPI Muncar dan Madura dengan panjang 4 meter, namun sudah didaratkan. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua untuk melakukan konservasi Elasmobranch. Kita pun harus memiliki etika ketika kita berhadapan dengan biota laut agar biota tersebut tidak merasa rumahnya terganggu. Yuk bergabung dengan komunitas citizen science yang bertanggung jawab dalam konservasi Elasmobranchii

Mau tahu bahasan lebih lanjutnya? Tonton BinTang Laut hanya di Instagram @yayasantaka atau klik disini

Maylissa Bunga